…ungkapan kejujuran hati seekor ikan glodok…

(to my someone special) :-P

cuma mau cerita sesuatu kok. :D :-D

tau ikan glodok? hewan mirip gabungan katak dan ikan, bisa hidup di dua alam, dan sebenarnya adalah bangsa ikan juga, namun karena fisiknya yang bentuknya aneh (mirip katak), ia sering disalahpahami sebagai kerabat katak.

nah, ceritanya, ada seekor ikan glodok bernama, kita sebut saja, si Kuro. si Kuro, sejak kecilnya, mencoba untuk dengan baik bergaul dengan siapa saja di sekolah manapun yang ia jalani. namun, fisiknya yang menyerupai setengah ikan setengah katak membuatnya hampir selalu dikucilkan.

di sekolah ikan, Kuro dicibiri sebagai ikan jelek yang warna kulitnya coklat gelap, tak seperti mereka, ikan-ikan yang kulit dan sisiknya cerah merona. sedangkan di sekolah katak, Kuro ditertawai oleh para katak disana, yang menganggap Kuro sebagai mahluk aneh karena walaupun ia berkulit coklat gelap, kulitnya tak bertotol2 sebagaimana halnya katak, namun bersisik seperti ikan. dan ia tidak berkaki seperti katak, tapi brsirip seperti ikan.

Kuro merasa serba salah. Ia sering mengadu kepada ayah-ibunya tentang kenapa ia adalah seekor ikan glodok, bukan ikan saja, atau katak sekalian. Ayah-ibunya hanya tersenyum penuh pengertian, sambil berkata bahwa Kuro harus sabar.

maka Kuro pun bersabar. bersabar untuk apa, Kuro pun tak tahu. ia hanya mencoba untuk melakukan apa yang ayah-ibunya katakan.

di SDnya, Kuro hampir diusir dari sekolah katak yang dia masuki karena pada saat itu di negeri katak, katak-katak sedang mudah terprovokasi untuk membunuhi ikan-ikan dan menjarahi tempat tinggal mereka, karena entah kenapa apa sebabnya, mereka sangat membenci bangsa ikan. Hal itu membuat Kuro tak pernah punya teman selama ia bersekolah di SD katak.

tapi Kuro tetap bersabar. seperti yang telah ayah-ibunya pesankan.

lanjut SMP, Kuro kembali bersekolah di SMP katak. disini, Kuro mendapat perlakuan sangat buruk – bahkan lebih buruk dari yang di SD – dari teman-teman kataknya. Tidak ada yang membela Kuro.

namun, kendatipun begitu, Kuro tetap bersabar, karena ia selalu ingat kepada pesan ayah-ibunya.

di SMA, ia kembali masuk SMA katak. padahal Kuro ingin sekali masuk ke sekolah ikan, tapi ayah-ibunya bilang bahwa sekolah ikan itu mahal, mereka tidak sanggup bayar. Kuro, yang waktu itu optimis dia boleh bersekolah di sekolah ikan kalau nilai kelulusannya bagus, cuma bisa menangis dalam diam. ia ingiiin sekali punya teman, entah itu dari sekolah katak atu sekolah ikan. namun karena dia sudah 2 kali sekolah di sekolah katak dan hasilnya ia terus2an dimusuhi, makanya sekali ini ia ingin sekali masuk sekolah ikan. namun, akhirnya dia sekali lagi masuk ke sekolah katak.

di sekolah ini, memang Kuro tidak pernah di’gencet’ atau dikasari sebagaimana dia di sekolah2 sebelumnya, tapi juga bukan berarti dia punya teman. nyaris tidak ada seekorpun katak temannya yang mengajaknya bicara, apalagi berteman.

akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke institut teknologi terbuka yang paling terkenal di negerinya, berharap dia bisa bertemu amfii-amfibi lainnya. bahkan mungkin seekor ikan glodok seperti dia juga banyak kesana.

pada akhirnya Kuro mampu masuk kesana, ayah-ibunya bangga dan senang sekali. mereka terus berharap akan kesuksesan Kuro. Kuro sangat terharu mendengarnya hingga menangis.

disini, pada akhirnya ia memiliki teman2. dan, yang menakjubkan, teman-temannya semua berasal dari golongan ikan! yay! ikan-ikan yang kulitnya licin, bersisik, dan cerah merona, seperti yang dia ketahui. Kuro bukan main senangnya. ternyata ia mengetahui, bahwa, ikan-ikan ternyata baik. Kebetulan, ikan-ikan yang berteman dengan Kuro hampir seluruh dan semuanya betina. cuma sedikit yang jantan juga seperti Kuro. namun begitupun, Kuro sudah sangat bersyukur sekali pada Tuhan, karena dia sudah diberi teman yang menurut dia banyak sekali.

suatu hari, ia melihat seekor ikan di kantin dekat tempat kuliahnya. ikan jantan itu nampak biasa saja. namun, Kuro melihat, ada sesuatu pada dirinya yang membuat Kuro memperhatikan dia terus-menerus.

Belakangan, Kuro tahu, dia juga adalah temannya salah satu ikan betina teman Kuro.

Saat itu, Kuro mengikuti sebuah perkumpulan juga. pada saat ada pertemuan, ternyata, si ikan jantan itu juga datang. Kuro bukan main senangnya. Namun, Kuro hanya bisa curi-curi pandang dari jauh. Kuro merasa minder, ia merasa terlalu jelek untuk setidaknya mengajak bicara ikan itu. Padahal Kuro sangaaat menyukai ikan jantan itu, alasannya apa, Kuro juga tidak mengerti.

tapi sejak itu Kuro jaraaaaang sekali melihat si ikan itu. entah apa yang terjadi. Kuro tidak mencari tahu, karena Kuro berpikir, sudahlah, mungkin bukan jodohku. dengan latar belakang pergaulannya yang demikian, wajar jika Kuro berpikir seperti itu.

cukup lama waktu pun berlalu. Kuro hampir tak pernah melihatnya lagi. sampai suatu ketika, saat perkumpulan itu berkumpul lagi, si ikan jantan itu datang lagi! kali ini, Kuro mendapatkan kesempatan mengobrol, karena ada beberapa ekor katak (ya, ada katak juga) yang mengajak makan malam bersama.

dan tebak? Kuro duduk disampingnya! Kuro senang bukan main! Kuro mencoba keras untuk tidak salah tingkah. waktu itu pula Kuro berkenalan dengannya. Namanya ternyata Domon. Nama yang bagus sekali, pikir Kuro. Sebagus figurnya, he3… :oops:

sejak saat itu, Kuro mencoba untuk selalu berbicara dengan Domon. selalu menegurnya di komputer, mengiriminya pesan singkat, surat, bahkan mengajak nonton bioskop! Dan Domon mengiyakan! Kuro serasa berada di langit ketujuh waktu itu. Ia hampir2 tidak bisa tidur semalaman setelah malam mereka nonton bersama karena saking bahagianya.

Kuro bertekad, dengan rasa suka yang semakin menjadi ini, Kuro harus jujur padanya.

Paling tidak, sekali dalam hidupnya, dia merasa dia harus bisa berkata jujur atas perasaannya sendiri, bukan menutup-nutupinya dalam diam.

Karena itu, 2 hari setelahnya, Kuro berniat menginap di rumah Domon, selain untuk berbagi mainan, juga untuk berkata jujur.

paginya, pada hari ketiga, Kuro menulis surat pada Domon, tentang perasaannya, dan ia meminta Domon membacanya.

Isinya cukup sederhana. kurang lebih, seperti ini:

Domon, Kuro ngga tau harus memulainya darimana. mungkin Kuro harus memulai dari bahwa Kuro ingin, setidaknya sekali saja, dalam hidupku, Kuro jujur atas perasaanku sendiri. karena Kuro selalu menutup diri. cuma terhadap Domon lah Kuro bisa jujur seperti ini.

Kuro cuma ingin bilang, bahwa, sebenernya, Kuro selalu memperhatikan Domon sejak pertama kali melihat Domon di kantin. karena itu Kuro bisa bilang, sekarang Domon lebih good-looking, walaupun sedikit gemukan, dibanding yang dulu, he3… :-P :wink: :oops:

Kuro juga cuma mau bilang, bahwa, sejak Kuro jadinya sering bicara dengan Domon, Kuro ngerasa makin suka dengan pribadi Domon.

Kuro cuma mau bilang, bahwa, kalau Kuro bisa minta sesuatu sama Tuhan untuk pasti dikabulkan, sekaliii saja dalam hidup ini, Kuro cuma mau minta, bahwa Kuro bisa terus disamping Domon, baik waktu Domon sedih, maupun seneng.

Kuro cuma mau bilang…bahwa Kuro…
…suka dan sayang sama Domon.

terakhir, Kuro cuma akan tanya 1 hal aja kok.

Gimana dengan Domon?

Kapanpun Domon ingin jawab, Kuro siap. lewat apa saja boleh. surat elektronik, pesan singkat, pesan pribadi, pesan offline, atau apapun. Kuro pasti akan baca.

terimakasih banyak ya Domon, udah mau baca. :-) :)

- dari Kuro –

begitulah bunyi suratnya yang ditulis Kuro untuk Domon, disampaikannya secara halus…

surat itu ditulisnya dalam komputer…

surat itu…

…adalah surat ini.

*untukDomon,satu-satunyayangbersedianemeninKuronontonfilmhorordibioskop*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.